Geliga (Melayu Jazz)

Perpaduan Melayu dan Jazz Khas Geliga

Bagi mereka yang mengatakan bahwa musik Melayu identik dengan alunan nada yang mendayu-dayu tentunya belum pernah mendengarkan Geliga. Grup asal Riau ini menjadi salah satu pengisi acara yang menyemarakan Ngayogjazz 2018. Geliga sendiri berasal dari kata dalam Melayu yang berarti istimewa, pintar, atau brilian.

Grup yang sudah terbentuk sejak 2001 oleh komposer Eri Bob ini mencoba untuk menggabungkan unsur melayu dan jazz ke dalam karyanya. Didasari oleh rasa penasaran untuk mengkombinasikan licks, atau susunan nada dari tradisi Melayu dipadukan dengan jazz, Geliga mencoba untuk mengeksplorasi ritme asli seperti Joged, Inang, Langgam dan Zapin. Hal inilah yang kemudian mendasari Geliga berkarya disetiap album garapannya serta membuat nama grup satu ini sangat kental dengan Jazz Melayu. Geliga telah melahirkan tiga album yang dianggap menjadi inspirasi lahirnya Melayu Jazz yaitu Geliga – The Malay Jazz (2003), Dang Bulan Nan Julang (2007), dan Tan Malaka (2009). Untuk perayaan Ngayogjazz 2018 kali ini, Geliga akan tambil dengan formasi baru yang diisi oleh Eri Bob dan musisi berbakat asal Pekanbaru dari generasi yang berbeda.

Setelah sempat vakum untuk beberapa saat, Eri Bob sebagai penggagas Geliga kemudian keluar dari persemadiannya untuk kembali menebarkan melayu jazz ke generasi muda. Membentuk Komunitas Belajar (Kobel) Jazz, Eri Bob berharap bahwa komunitas ini dapat menjadi ruang belajar untuk memainkan standar jazz sekaligus persemaian bibit baru. Walaupun dalam prosesnya diakui tidak mudah oleh pendiri Geliga ini, tapi semangatnya tidak surut. Penasaran dengan perpaduan antara melayu dan jazz a la Geliga dengan formasi barunya? Jangan sampai ketinggalan untuk menyaksikan secara langsung di Ngayogjazz 2018 ya Honn.