Single Blog Title

This is a single blog caption
24
Nov

Seko Tumpeng, Dadi Gayeng

Ngayogjazz 2015 diawali dengan tumpengan seperti tahun-tahun sebelumnya. Tumpengan ini diadakan dalam rangka menyinergikan segala elemen yang terlibat dalam hajatan Ngayogjazz 2015. Tumpengan dalam budaya Jawa adalah sebuah acara syukuran yang secara simbolis sebagai wujud syukur kepada Tuhan Pencipta Alam Semesta Raya. Ada yang beda di tumpengan Ngayogjazz 2015 kali ini, yang diadakan di depan panggung Werkudara kurang dari 12 jam sebelum perhelatan Ngayogjazz dibuka. Perbedaan itu terletak pada antusiasme yang jauh lebih tinggi. Banyaknya warga yang terlibat dalam acara tumpengan, baik tua maupun muda, menjadi bukti. Beberapa penampil pun juga turut datang pada acara tumpengan.

Lalu, pada hari H hajatan Ngayogjazz 2015, sejak pagi sudah terlihat warga dan panitia lalu lalang untuk melakukan kerja bakti menata panggung, membuat visual jalanan, mengorganisir parkir dan keamanan, menjajakan dagangannya di pasar jazz dan masih banyak kegiatan lainnya. Mereka semua hampir tidak bisa dibedakan. Semuanya melebur jadi satu.

Matahari yang semakin meninggi tidak melunturkan semangat seluruh pihak yang nyengkuyung hajatan Ngayogjazz 2015. Panggung-panggung mulai sibuk klontengan membunyikan alat-alat musik untuk check-sound sebelum hajatan dimulai pukul 15.00 WIB. Mulai dari pembukaan, nuansa kolaborasi sudah terasa. Dari ajakan pejabat tinggi untuk membunyikan peluit dan terompet bersama demi kepentingan membuka hajatan.

Semakin malam Ngayogjazz yang ternyata tidak turun hujan membuktikan tajinya. Suasana semakin meriah dan membawa kebahagiaan bagi banyak orang, beberapa panggung diisi oleh nomor-nomor penampil unggulan. Seperti panggung Puntadewa dengan Adie Unyil and the Bawor, panggung Werkudara dengan ESQI:EF dan INA Ladies, panggung Nakula dengan Dexter Band feat Panjoel, panggung Janaka dengan Musikanan, dan tak ketinggalan penampilan Nita Aartsen di panggung Sadewa. Sebelum nomor-nomor penampil unggulan, teman-teman komunitas Jazz dari berbagai daerah sudah menjadi magnet bagi banyak orang yang hadir.

Menjelang puncak acara jam session tahunan ini, beberapa penampil yang sudah menghibur sebelumnya turun panggung dan membaur bersama pengunjung.

closing (4)_728x252pix

Closing Tresna ning Tiyang Pambuka,

Tepuk tangan tak pernah henti-hentinya diberikan oleh para penonton. Gemerlap lampu, gelegar suara suara cantik Trie Utami berduet dengan Djaduk Ferianto, tabuhan gamelan ditambah serangga-serangga kecil yang berterbangan menjadi sebuah efek dramatis yg tidak akan pernah dilupakan. Mulai dari penonton yang duduk sampai berdiri suk-sukan. Sampai ada yang duduk di celah-celah pohon bambu. Namun mereka semua tetap khidmat menikmati sajian dari Trie Utami dan Kua Etnika. Ditambah kehadiran tamu tak diundang, Butet Kertarajasa yang ulang tahunnya dirayakan di tengah tengah jam session, menambah meriah suasana. Jogetan dan musik dangdut yang dibawakan juga menambah perbincangan bahwa Jazz bisa dimainkan dengan segala cara. Sebagai bentuk rasa sayang, Djaduk Ferianto selaku wakil dari Ngayogjazz, menghadiahkan komposisi Semar Stem kepada masyarakat desa Pandowoharjo. Komposisi ini diberi judul Semar Stem karena Semar lah yang selalu menjadi pendamping Pandowo. Menariknya, jelang puncak jam session hampir semua penonton menurunkan kameranya dan hanyut dalam hingar bingar alunan nada indah dari grup itu. Sejenak sebelum Ngayogjazz 2015 berakhir, Djaduk Ferianto meminta hadirin untuk berdiri dan berdendang bersama untuk menyanyikan lagu Indonesia Pusaka. Lagu ini dinyanyikan secara serempak oleh semua yang hadir di panggung Werkudara sekaligus menjadi penutup Ngayogjazz 2015.

Terbukti dari awal sampai akhir, jam session itu berjalan dengan sempurna. Jam session tidak dilakukan oleh penampil saja tetapi oleh seluruh elemen yang terlibat dalam hajatan ini. Ngayogjazz dapat menyajikan jam session musik jazz tidak hanya dalam musik saja tapi juga kehidupan. Perayaan keberagaman kali ini boleh jadi sudah usai, namun spirit dan semangatnya masih harus tetap dibawa hingga kedepan nanti. Menutup pergelaran kesembilan kali ini, Ngayogjazz kali ini telah memperkuat fondasinya dan akan memasuki satu dekade pada tahun 2016 nanti. Mari menjadi bagian dari perayaan satu dekade di tahun depan, sampai bertemu di Ngayogjazz 2016!