Jazz Diundang Mbokmu — sapaan yang akrab, jenaka, tapi bisa jadi sarat makna. Ada yang membacanya sambil bersenandung pelan: tung, dêng, dêng, dùng!—suara bass betot dari kotak kayu berdawai tiga utas karet ban bekas, dimainkan musisi jalanan Yogyakarta. Tak jarang sang musisi memainkannya sambil melantunkan lirik “Nduk, diundang mbokmu!”. Pada era pertengahan 80-an, bunyi ini akrab terdengar di sudut-sudut jalanan dan perempatan kota Yogyakarta. Pun di desa-desa, suara ini njajah desa milang kori—melintas dari halaman demi halaman. Lirik dan nadanya tak terpisahkan dari senda gurau sehari-hari, menjadi panggilan akrab sesama kawan sebaya. Memasuki era 2000-an, suara itu hadir kembali lewat lagu Tumini Gatheli karya musisi hip hop asal Yogyakarta, Jahanam. “Tum Diundang Mbokmu!” menjadi lirik pembuka yang melekat di memori anak-anak muda.
Tagline Ngayogjazz 2025 lahir dari ingatan kolektif: tentang jalanan yang bersuara, tentang kota dan desa yang hidup lewat musik. Lantas, apakah ingatan ini hanya milik masa lalu, atau justru berdenyut dalam setiap langkah kita hari ini? Mempengaruhi cara kita merawat ruang hidup dan menyapa sesama?
Dan jika Jazz Diundang Mbokmu adalah cara bercerita, akankah setiap denting nadanya memanggil kembali “rumah”, wajah orang-orang tercinta, dan kisah mereka yang bernyanyi di jalanan? Dapatkah cerita ini menghubungkan yang jauh, merekatkan yang berbeda, menyemai kebersamaan dan kesetiakawanan?
Dan tentu, honn-honn semua bebas menafsirkannya: mungkinkah Jazz Diundang Mbokmu adalah panggilan untuk pulang ke rumah menikmati nostalgia yang lembut. Atau, barangkali ia gema dari suara-suara musisi jazz yang tidak mendapat tempat di festival-festival besar di Indonesia? Atau sekadar nyanyian dan tawa ringan di sela obrolan?
Akankah Jazz Diundang Mbokmu menjelma panggung yang lembut: suara ibu yang memanggil pulang, mengingatkan bahwa musik—seperti keadilan—seharusnya bisa dirasakan semua orang?
Pastinya akan ada reka jawaban lain bagi setiap honn yang hadir di Ngayogjazz 2025. Apapun itu, tagline tahun ini tidaklah terlalu penting untuk dibahas secara mendalam, apalagi diperdebatkan. Yang jelas Ngayogjazz mengajak honn-honn semua untuk datang—tanpa protokol, tanpa sekat, tanpa jarak.
Sampai jumpa di Kalurahan Imogiri honn!!!

TENTANG NGAYOGJAZZ
Inilah Jazz !!!
Asyik, spontan, interaktif dan ekspresif, begitulah cara memainkan musik ini. Boleh dibilang hampir tanpa batasan. Siapapun; alat musik apapun; kapanpun; di manapun. Bahkan dalam suasana dan kondisi apapun, karena jazz lahir dalam sebuah kondisi sosial yang kemudian menggunakan permainan musik sebagai responnya. Jazz menjadi sebuah pelarian dari keadaan yang penat bagi orang-orang keturunan Afrika di Amerika Serikat pada suatu masa. Kini cara memainkan musik ini telah menyebar ke seluruh penjuru dunia dan melibatkan lebih banyak orang; lebih beragam alat musik dan bermacam unsur kebudayaannya, sebanyak ragam kesenian, bunyi di bumi ini. Bahkan Jazz telah menjadi ‘hidup’ bagi sebagian orang.
Inilah Jazz !!!
Sebagai event yang bertujuan untuk mengadakan sebuah peristiwa budaya, Ngayogjazz akan bersifat terbuka. Di setiap tahunnya Ngayogjazz selalu memilih tempat penyelenggaraan di pedesaan sekaligus melibatkan masyarakatnya sehingga event ini secara tidak langsung juga menjadi milik masyarakat di mana Ngayogjazz diselenggarakan. Pemilihan dan pengaturan tempatnya akan membuat masyarakat sekitar bisa menikmati dan berpartisipasi langsung di dalam event ini. Selain kesenian tradisional setempat, akan selalu ada pasar tiban bernama Pasar Jazz yang mayoritas diikuti oleh penduduk setempat sebagai usaha pemberdayaan ekonomi masyarakat. Ngayogjazz tetap akan bisa disaksikan, diikuti, dan dinikmati secara gratis tanpa pungutan tanda masuk dan tanpa pungutan stand di Pasar Jazz. Bahkan berbagai komunitas di luar komunitas jazz akan berpartisipasi, semisal komunitas fotografi, komunitas otomotif, hingga komunitas film.
Jejaring Pangada-ada Ngayogjazz
- Djaduk Ferianto
- Aji Wartono
- Bambang Paningron
- Hattakawa
- Ahmad Noor Arief
- Hendy Setyawan
- Novindra Dhiratara Kirana