Kalurahan Imogiri

Di kaki bukit yang berkabut, sejarah berdenyut lembut.

Ada sejarah panjang terukir di Imogiri. Namun, sebagai pengantar perjumpaan kita di Ngayogjazz 2025 nanti, bolehlah kita intip sepenggal saja kisahnya. Ya. tahun ini Kalurahan Imogiri menjadi tuan rumah Ngayogjazz honn!

Nama Imogiri berasal dari bahasa Sansekerta: hima berarti kabut dan giri berarti gunung. Jika keduanya digabung berarti ‘pegunungan yang diselimuti kabut’. Di sanalah, di puncak perbukitan yang sunyi itu, raja-raja Mataram beserta keluarganya disemayamkan. Situs Makam raja-raja Imogiri—dibangun oleh Sultan Agung Hanyakrakusumo pada 1632—menjadi saksi perjalanan sejarah Mataram dari masa ke masa.

Melalui berbagai penjanjian dan pembagian wilayah di masa lalu, Imogiri pernah menjadi bagian dari wilayah kantong (enclave) Surakarta. Dalam Penjanjian Klaten (1830) yang mengamandemen Perjanjian Giyanti (1755), disepakati bahwa, “…untuk merawat makam-makam di Mataram, 500 cacah tanah di dekatnya diserahkan kepada Paduka Susuhunan. Sementara untuk makam Seselo di Sukowati 12 jung tanah di dekatnya diserahkan kepada Paduka Sultan Yogyakarta…” Termasuk di dalam 500 cacah tanah ini adalah Kawedanan Imogiri Surakarta dan Kapanewon Kotagede Surakarta.

Waktu berlalu, sejarah pun bergulir. Singkat cerita, memasuki masa pemerintahan RI sejumlah peraturan diterbitkan untuk menata ulang wilayah kantong ini. Dan baru pada 1958, melalui Perda DIY, Imogiri secara resmi bergabung ke dalam wilayah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Meski demikian, status magersari (kepemilikan tanah keraton) Imogiri tetap berada di bawah Kasunanan Surakarta.

Demikianlah honn, sepenggal kisah sejarah tlatah Mataram. Jejaknya dapat kita saksikan pada cagar budaya yang ada di sana. Di atas tanah magersasi-nya, berdiri Ndalem Kanjengan Kulon Surakarta, kediaman juru kunci makam Keraton Surakarta, tak jauh dari Ndalem Bupati Puralaya Kasultanan Yogyakarta. Sementara di depan alun-alun menjulang Toegoe Djam yang dibangun pada 1866 untuk memperingati Jumenengan (hari naik tahta) Pakubuwono X. Hingga kini, jam yang terpasang di kepala tugu itu masih berdetak: menjadi penjaga waktu dan ingatan kolektif warga, menandai momentum penting di masa lalu, sembari terus berjalan seiring perubahan zaman.

Di Kalurahan Imogiri, sejarah berdenyut lembut. Warga menghidupinya melalui ritus-ritus budaya seperti ngarak siwur dan nguras encah di bulan Suro, kutho moro (prosesi ziarah makam raja) di bulan Ruwah, merti dusun, serta wiwitan untuk memulai masa tanam. Juga dalam laku-laku kesenian salawatan, macapatan, geguritan Jawa, karawitan, ketoprak, hingga sandiwara Jawa.

Kaluharan Imogiri tak hanya kaya sejarah dan ritus seni budaya. Ada banyak sajian kuliner khas yang dapat kita nikmati di sana. Mulai dari jadah bakar, mie lethek, mie pentil, pecel kembang turi, hingga ampo. Yang terakhir ini adalah camilan yang terbuat dari tanah liat murni. Warga setempat juga menggunakan adonan ampo untuk memasak gudeg dan menghilangkan rasa pahit daun pepaya agar terasa lebih nikmat.

Selamat datang di Kalurahan Imogiri honn!!!